Menggugah Partisipasi & Membangun Sinergi: Upaya Bergerak dari Stagnasi Ekologis Pengelolaan Sampah

Masalah penanggulangan sampah nampaknya sampai saat ini masih belum mendapaktan perhatian banyak dari seluruh lapisan masyarakat. Selama ini solusi yang dilakukan masyarakat hanyalah dengan membuat TPA (Tempat pembuangan Akhir) di beberapa tempat. Mereka menganggap solusi ini merupakan solusi yang mampu secara efektif menanggulangi masalah sampah. Tetapi di sisi lain pembuatan TPA ini merupakan langkah jangka pendek untuk menanggulangi masalah sampah. Sementara dampak jangka panjang nantinya TPA yang digunakan untuk menimbun sampah sudah tidak mampu lagi menampung sampah yang semakin hari semakin menumpuk dan pada akhirnya akan menimbulkan masalah baru di kemudian hari.

Menurut Laily Muthmainah, dia melihat bahwa sumber utama dari penumpukan sampah adalah konsumsi dan industrialisasi. Dalam tulisannya ia menjelaskan bahwa ada 2 teori tentang etika lingkungan :

  1. 1.      Antroposentrisme adalah manusia pusat dari sistem alam. Jadi alam hanya digunakan sebagai alat oleh manusia untuk memenuhi kebutuhannya.
  2. 2.      Ekosentrisme adalah manusia tidak lagi menjadi pusat dari sistem alam.

Jika kedua teori ini direfleksikan pada kehidupan nyata maka kebanyakan masyarakat masih cenderung berperilaku Antroposentrisme. Kondisi ini diperparah lagi dengan adanya industrialisasi di berbagai daerah yang selalu menghasilkan limbah dan sampah dalam jumlah yang besar. Solusi yang ditawarkan oleh Laily Muthmainah untuk menanggulangi masalah ini adalah mengobah pola piker masyarakat dari Antroposentrisme menjadi Ekosentrisme dan mengubah pola pikir manusia menjadi ramah lingkungan.

Ada 2 teknik dalam mengolah sampah. Yakni End of Pipe dan Clean Production. Yang dimaksud End of Pipe adalah pengolahan sampah ketika permasalahan mengenai sampah mulai muncul. Sementara Clean Production lebih kepada tindakan pencegahan agar masalah pengolahan sampah dapat dikurangi.

Selanjutnya ada 2 tawaran solusi dari beberapa ahli yakni dengan Ecoliteracy dan Ecodesign. Yang dimaksud Ecoliteracy menurut Fritjof Capra adalah perubahan pola pikir masyarakat akan kesadaran mengenai perlindungan lingkungan. Sementara  Ecodesign adalah tindakan memunculkan teknologi yang ramah lingkungan. Ecodesign disini lebih ditujukan kepada aktor-aktor industri yang dituntut untuk memunculkan suatu produk yang ramah lingkungan dan sampah yang dihasilkan dari produk ini mampu memberikan manfaat di bidang yang lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s